MANOKWARI, SURYA ARFAK – Kinerja sektor perbankan di Papua Barat dan Papua Barat Daya menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga akhir tahun 2025. Hal ini tercermin dari peningkatan aset, penyaluran kredit, serta kinerja pembiayaan yang tetap terjaga stabil.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua Barat dan Papua Barat Daya, Budi Rahman, dalam kegiatan Jurnalist Update, Minggu (8/3/2026), menjelaskan bahwa secara umum sektor perbankan di wilayah tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup baik.
“Pada posisi 31 Desember 2025, total aset perbankan tercatat sebesar Rp32,51 triliun atau tumbuh 6,70 persen secara tahunan (year on year). Penyaluran kredit juga meningkat menjadi Rp19,78 triliun atau tumbuh 9,98 persen,” ujar Budi Rahman.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp16,58 triliun atau mengalami kontraksi sebesar 3,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Budi Rahman, berdasarkan jenis bank, kinerja perbankan di Papua Barat dan Papua Barat Daya masih didominasi oleh bank umum. Pangsa aset bank umum mencapai 98,94 persen atau sekitar Rp32,16 triliun, sementara pangsa kredit mencapai 98,41 persen atau sekitar Rp19,47 triliun.
Adapun pangsa dana pihak ketiga bank umum mencapai 99,34 persen atau sekitar Rp16,46 triliun, sedangkan sisanya merupakan kontribusi dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Dari sisi kualitas kredit, tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) masih berada pada level yang terjaga. Selain itu, rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio/LDR) tercatat sebesar 119,32 persen.
Budi Rahman juga menyampaikan bahwa kinerja perbankan syariah turut menunjukkan pertumbuhan positif. Nilai aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp554,13 miliar atau tumbuh 1,72 persen secara tahunan.
Sementara itu, pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp219,30 miliar atau tumbuh 2,69 persen, dan dana pihak ketiga mencapai Rp51,73 miliar atau meningkat 7,52 persen secara tahunan.
Di sisi lain, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi perhatian utama perbankan. Hingga 31 Desember 2025, total penyaluran kredit UMKM tercatat sebesar Rp5,62 triliun.
“Komitmen perbankan dalam mendorong pembiayaan bagi UMKM terus diperkuat. Hingga akhir 2025, penyaluran kredit UMKM mencapai Rp5,62 triliun dengan kualitas kredit yang tetap terjaga,” kata Budi Rahman.
Ia menambahkan bahwa rasio kredit bermasalah UMKM tercatat sebesar 3,47 persen atau masih berada di bawah ambang batas 5 persen yang ditetapkan regulator.
OJK Papua Barat dan Papua Barat Daya memastikan akan terus mendorong penguatan intermediasi perbankan, peningkatan literasi keuangan, serta perluasan akses pembiayaan guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (SA01)








