Tidak Hanya Buah, SPPG di Papua Barat Mulai Kesulitan Memperoleh Sayuran

MANOKWARI, SURYA ARFAK – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Barat mulai mengalami kesulitan memperoleh bahan baku, khususnya sayuran dan buah-buahan.

Koordinator Regional SPPG Papua Barat, Erika Vionita Werinussa, mengungkapkan bahwa kendala tersebut semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir, seiring meningkatnya kebutuhan dapur MBG.

Ia menuturkan, saat melakukan pemantauan di Pasar Wosi pekan lalu, terlihat jelas keterbatasan pasokan sayuran di pasaran.

“Waktu itu ada dua dapur MBG yang menggunakan daun singkong sebagai menu. Satu dapur sudah kumpulkan 250 ikat, tapi masih kurang 20 ikat. Sementara dapur lain yang baru melayani 500 penerima manfaat sudah butuh 50 ikat,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, jika satu dapur melayani lebih dari 2.000 penerima manfaat, maka kebutuhan daun singkong bisa mencapai 200 hingga 250 ikat dalam sekali masak.

Kondisi ini membuat pasar lokal kewalahan memenuhi permintaan. Bahkan, persoalan serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain seperti Ransiki (Manokwari Selatan), Teluk Wondama, Kaimana, hingga Fakfak.

“Kasihan, bahan baku banyak yang harus didatangkan dari luar daerah karena pasokan pasar lokal tidak mencukupi,” katanya.

Selain sayuran, kendala terbesar juga terjadi pada ketersediaan buah. Erika menyebut, untuk wilayah Manokwari saja, pasokan buah masih bergantung dari daerah lain seperti Jayapura dan Teluk Bintuni.

“Apel, pisang, semua mulai sulit didapat. Bahkan pisang matang sekarang juga sudah mulai susah karena banyak dapur yang membutuhkan,” jelasnya.

Di sisi lain, variasi menu buah juga menjadi tantangan tersendiri. Jika jenis buah yang disajikan sama dalam beberapa hari, anak-anak penerima manfaat cenderung merasa bosan.

Ia mengaku, berdasarkan pengamatan di lapangan, buah seperti melon dan pepaya sering kali tersisa lebih banyak dibanding jenis buah lainnya.

“Kalau menunya itu-itu saja, anak-anak bosan. Sisa makanan paling banyak biasanya dari buah melon dan pepaya,” ungkapnya.

Namun, kondisi ini juga berbeda di setiap daerah. Di Teluk Wondama misalnya, anak-anak justru kurang menyukai semangka dan melon, tetapi lebih menyukai pisang dan pepaya.

“Jadi memang harus disesuaikan juga dengan karakter anak-anak di masing-masing daerah,” tambahnya.

Ia berharap ke depan ada solusi untuk memperkuat ketersediaan bahan baku lokal agar kebutuhan dapur MBG dapat terpenuhi secara berkelanjutan. (SA01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *