Manokwari, SURYA ARFAK – Ketua Umum DPP Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI), Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan, M.T., M.M., I.P.U., ASEAN Eng, mmelantik Prof. Dr. Roberth KR Hammar, SH, M.Hum, MM, CLA, sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah IKDKI Papua Barat dan Papua Barat, Senin (12/5/2025).
Usai pelantikan, Prof, Agustinus mengemukakan bahwa IKDKI merupakan wadah dosen-dosen Katolik seluruh Indonesia untuk membangun kolaborasi, networking, dan saling membantu satu yang lain untuk berkembang.
“Tujuannya bagaimana masing-masing anggota itu bisa mengikuti anggota yang lain yang sudah lebih maju lebih dahulu. Misalnya, kalau sudah dapat profesor bagaimana itu bisa di-sharing-kan kepada teman-teman yang masih muda untuk bisa jadi profesor. Yang bisa riset bagus, dia bisa meniru dari teman-temannya, sehingga bisa juga menjadi orang yang bagus atau peran-perannya di dalam kehidupan masyarakat itu juga bisa saling sharing,” ungkapnya.
Selain itu, dosen-dosen Katolik diharapkan tidak hanya terkungkung di lingkungan kampus, tapi bisa berinteraksi dengan dunia luar, sehingga mendapatkan banyak hal untuk dibawa dalam pembelajaran di kampus.
“Dia keluar tapi juga berkontribusi. Dengan banyak belajar di antara kami, dia bisa berkontribusi yang lebih luas lagi bagi nusa dan bangsa, misalnya melalui pemikiran, ide-ide kreatif untuk mengembangkan masyarakat, meningkatkan kehidupan masyarakat yang lebih baik,” katanya.
Prof. Agustinus menambahkan bahwa dengan adanya IKDKI sebagai organisasi resmi yang diakui pemerintah dan gereja, para dosen Katolik bisa memiliki akses yang lebih luas. Sebab untuk membantu pemerintah dibutuhkan organisasi resmi.
“Dengan IKDI yang diakui pemerintah dan gereja, dia bisa menggunakan organisasi ini sebagai basis untuk mengakses yang diperlukan dari pemerintah seperti dana, tapi juga membantu melakukan riset-riset yang dibutuhkan pemerintah,” tukasnya.
Ketua DPW IKDKI Papua Barat dan Papua Barat Daya, Prof. Roberth Hammar, mengatakan bahwa setelah dilantik, pihaknya akan melakukan konsolidasi organisasi terutama mempelajari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IKDKI.
“Kemudian mempersiapkan program kerja prioritas yakni program internal dan eksternal,” katanya.
Program internal, kata Prof. Hammar, yakni penguatan kapasitas dosen. Saat ini, kata dia, jumlah dosen Katolik di Manokwari yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) sebanyak 90-an. Sedangkan di Sorong, data sementara ada sekitar 30-an orang, belum termasuk dari Fakfak dan Kaimana.
Menurutnya, IKDKI Papua Barat dan Papua Barat Daya kini memiliki lima orang profesor yakni dari Universitas Negeri Papua dan Universitas Caritas Indonesia. Sedangkan yang lain doktor, dan kebanyakan masih magister.
“Jadi prioritas internalnya, bagaimana saling mendorong sesama dosen IKDKI untuk peningkatan kapasitas dari magister ke doktor, dari doktor ke profesor,” katanya.
Sedangkan program eksternal, kata Prof Hammar, yakni membangun hubungan yang baik dengan kampus, dengan pemerintah, dan dengan organisasi dalam lingkaran hierarki gereja, seperti LP3KD, WKRI, Pemuda Katolik, Fox Point, PMKRI, dan lain-lain.
“Lalu membangun hubungan baik dengan hierarki gereja. Jadi apapun yang terjadi orang Katolik harus tegak lurus dengan hierarki gereja,” tukasnya. (SA01)








