Obet Rumbruren dan BGN Sepakat Pengawasan SPPG Diperketat untuk Pastikan Keamanan MBG

MANOKWARI, SURYA ARFAK – Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Papua Barat, Erika Vionita Werinussa, menegaskan komitmennya memperketat pengawasan di seluruh dapur SPPG guna mencegah risiko keracunan atau makanan busuk pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengawasan ini melibatkan kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan.

“Kita akan memperketat pengawasan di SPPG. Kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan memiliki peran penting dalam melaksanakan pengawasan di setiap dapur SPPG,” kata Erika pada sosialisasi program MBG di Manokwari bersama anggota Komisi IX DPR RI, Obet Rumbruren, Rabu (4/3/2026).

Erika menjelaskan, dirinya rutin melakukan inspeksi mendadak ke dapur-dapur SPPG setiap malam. Namun, jumlah dapur di Manokwari yang mencapai 22 unit membuatnya hanya mampu memantau maksimal tujuh dapur per malam. Karena itu, peran kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan sangat krusial untuk mendukung pengawasan di semua dapur.

“Jadi kalau lalai sedikit saja, memang bisa terjadi masalah pada makanan di dapur,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya seluruh petugas SPPG mematuhi standar operasional prosedur (SOP), khususnya dalam pemakaian alat pelindung diri (APD).

“APD adalah kuncinya. Kalau lalai menggunakan APD, kita tidak tahu kontaminasi silang atau bakteri, kuman bisa berasal dari diri kita. Sekali lagi, pengawasan bahan makanan harus diperkuat mulai kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan, termasuk semua relawan dapur yang bertanggung jawab penuh terhadap keamanan pangan,” tegasnya.

Sementara itu, Obet Rumbruren menekankan bahwa pengawasan ketat di dapur SPPG menjadi kunci keberhasilan MBG, karena keamanan dan mutu makanan merupakan perhatian utama masyarakat.

“Program MBG menyangkut kesehatan anak-anak kita. Semua proses dari bahan baku, pengolahan, hingga distribusi harus diawasi dengan ketat. Dengan pengawasan yang baik, kita bisa memastikan makanan aman, bergizi, dan diterima dengan aman oleh penerima manfaat,” ujar Obet.

Keduanya sepakat bahwa penguatan pengawasan dan kedisiplinan seluruh petugas serta relawan merupakan fondasi penting agar program MBG berjalan aman, berkualitas, dan berkelanjutan di Papua Barat. (SA01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *