Enam Lulusan Angkatan III School of Mission Motivator Manokwari Siap Diutus ke Bangsa-bangsa

MANOKWARI, SURYA ARFAK – School of Mission Motivator Manokwari kembali melepas enam lulusan angkatan ke-III untuk bergabung dengan misionaris dari berbagai negara dan dipersiapkan sebelum diutus melayani ke sejumlah negara. Dengan tambahan enam lulusan ini, total misionaris yang telah dihasilkan lembaga tersebut mencapai 21 orang.

Direktur Eksekutif Mission Motivator Manokwari, Pdt. Syafrin Tiranda, M.Th, mengatakan pada angkatan ketiga ini banyak peserta yang mengalami perubahan hidup signifikan sebelum terpanggil melayani.

“Di tahun ketiga ini saya melihat justru yang masuk adalah orang-orang yang dulunya hidup di jalanan, mabuk, kacau, bahkan keluar masuk penjara dan kasus narkoba. Tetapi Tuhan ubah dan pulihkan, dan sekarang mereka melayani di mana-mana. Jadi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak anak-anak Papua dari berbagai denominasi gereja dipersiapkan menjadi misionaris lintas bangsa, tidak hanya melayani di Papua tetapi juga ke kota-kota dan negara lain.

“Papua ke bangsa-bangsa akan terjadi dan sudah terjadi. Mereka akan belajar bersama misionaris dari berbagai negara, dipersiapkan, lalu diutus,” katanya.

Syafrin menjelaskan, enam lulusan angkatan III dijadwalkan berangkat pada Maret 2026 untuk mengikuti pembinaan internasional selama tujuh bulan bersama misionaris dari berbagai negara, sebelum kemudian diutus ke ladang pelayanan di beberapa negara.

Ia juga mengumumkan penerimaan siswa angkatan IV akan dibuka pada Agustus 2026. Peserta program berasal dari berbagai wilayah di Tanah Papua, antara lain Pegunungan Arfak, Nabire, Serui, Waropen, Sentani, Yahukimo, dan Wamena.

“Jumlah lulusan angkatan pertama delapan orang, angkatan kedua tujuh orang, dan angkatan ketiga enam orang. Memang banyak yang gugur pada tahap akhir penginjilan,” jelasnya.

Menurut Syafrin, lulusan Mission Motivator sebelumnya telah melayani di sejumlah negara seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Tantangan utama yang dihadapi adalah kemampuan bahasa Inggris, sehingga pembinaan bahasa menjadi materi wajib dalam program.

“Mereka juga bertemu misionaris dari berbagai negara, dilatih lintas budaya dengan bahasa Inggris supaya lebih siap,” tambahnya.

Dalam pelayanan firman, Ev. Febelina Wondiwoy berpesan kepada para lulusan agar tetap setia dalam panggilan pelayanan.

“Apapun yang terjadi, tetap berpegang pada janji Yesus. Jatuh bangun tetap bersama Yesus. Penamatan ini bukan akhir, tetapi awal untuk berkarya bagi Tuhan dan membawa kasih-Nya kepada bangsa-bangsa,” pesannya.

Ia menegaskan seorang mission motivator dipanggil bukan hanya untuk pandai berbicara, tetapi hidup sebagai teladan dengan kerendahan hati serta iman yang teguh. (SA01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *