MANOKWARI, SURYA ARFAK.COM – Kepala Biro Umum Setda Papua Barat, Orgenes Idji, melalui kuasa hukumnya, Simon Banundi, SH, membantah telah terjadi mediasi antara kliennya dengan perwakilan honorer 1.002.
“Selaku Kuasa Hukum Kepala Biro Umum Setda Papua Barat, kami menolak statement dan pemberitaan sepihak yang menyebutkan ‘Mediasi Berjalan Baik, Tidak Ada Masalah antara Honorer 1.002 dan Karo Umum Papua Barat”, tegas Simon Banundi kepada awak media, Sabtu (17/5/2025).
Menurut Simon Banundi, sampai dirinya membuat pernyataan ini, belum pernah ada mediasi dengan Kepala Biro Umum Setda Papua Barat. Untuk itu, dia meminta agar pihak yang mengeluarkan pernyataan bahwa telah ada mediasi harus menarik kembali pernyataannya.
“Kami perlu tegaskan di sini bahwa jika ada pemberitaan mengenai mediasi, itu adalah pemberitaan dan informasi yang sesat dari pihak-pihak luar. Kami pikir mereka harus menarik kembali apa yang mereka sampaikan,” tegasnya lagi.
Diakui Simon Banundi bahwa memang ada pertemuan antara perwakilan honorer 1.002 dengan Kepala Biro Umum Setda Papua Barat pada Jumat (16/5/2025). Namun itu adalah pertemuan perwakilan honorer 1.002 yang ingin mengetahui penjelasan Kepala Biro Umum terkait isu penyerahan 300 nama honorer titipan ke BKD Papua Barat.
“Sesudah mengetahui informasi dan fakta sebenarnya, beberapa orang honorer 1.002 yang terlibat aksi demo pada, Rabu 14 Mei 2025, di depan pendopo kantor Gubernur Papua Barat mengaku meminta maaf dalam pertemuan, tetapi sekali lagi kami tegaskan ini bukan mediasi,” tegasnya.
Oleh karena itu, Simon Banundi menyatakan bahwa laporan polisi di Polresta Manokwari bernomor: LP/B/459/V/2025/SPKT/POLRESTA MANOKWARI/POLDA PAPUA BARAT tertanggal 15 Mei 2025 tetap ada dan dilanjutkan.
“Oknum pejabat di internal BKD Papua Barat dan beberapa honorer harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka, yang secara jelas melanggar pasal 310 ayat (1) dan ayat (2), juga pasal 311 ayat (1) KUHPidana, di mana tindakan terlapor yang menyebarkan foto dokumen Biro Umum, menyebarkan flyer, menyebarkan voice note telah menjadi serangan pribadi,” tandasnya. (SA01)








