Kisah Inspiratif Hermus-Mugiyono: Dari Keterbatasan Anak Petani Kampung hingga Memimpin Manokwari

MANOKWARI – Di balik jabatan dan tanggung jawab besar yang kini diemban, ada kisah sederhana yang jarang terlihat—kisah tentang dua anak kampung yang tumbuh dari tanah yang sama, dengan mimpi yang tak pernah sederhana.

Wakil Bupati Manokwari, Mugiyono, mengenang masa kecilnya dengan nada yang jujur dan apa adanya. Ia menyebut dirinya memiliki latar belakang yang serupa dengan Bupati Manokwari, Hermus Indou—keduanya lahir dari keluarga petani, tumbuh di kampung, dan mengenal kerasnya hidup sejak dini.

“Kalau di kampung-kampung, jangan bicara Posyandu,” ujarnya, menggambarkan minimnya akses layanan dasar yang dulu mereka rasakan, saat peresmian empat Posyandu, Sabtu (2/5).

Namun, keterbatasan itu tidak mematikan harapan. Justru sebaliknya—dari kondisi yang serba terbatas, keduanya ditempa menjadi pribadi tangguh. Meski berasal dari keluarga sederhana, mereka tetap mendapatkan didikan yang kuat dari orangtua, hingga akhirnya takdir membawa mereka ke posisi sebagai pemimpin daerah.

Perjalanan menuju titik ini bukan tanpa perjuangan. Baik Mugiyono maupun Hermus sama-sama sudah bekerja sejak usia sekolah. Mugiyono mengaku mulai bekerja saat duduk di bangku SMA, sementara Hermus bahkan lebih awal—sejak SMP.

Hari-hari mereka diisi bukan hanya dengan pelajaran di kelas, tetapi juga kerja keras membantu orangtua. Waktu belajar menjadi barang mewah.

“Anak lain pulang sekolah bisa belajar, ikut les. Kalau saya pulang langsung kerja sampai jam sembilan malam. Sampai rumah sudah jam sebelas, tidak ada kesempatan belajar,” tutur Mugiyono.

Meski begitu, semangat untuk berprestasi tidak pernah padam. Ia tetap mencatatkan prestasi akademik sejak SD hingga SMP sebagai juara pertama. Bahkan saat masuk SMA 1—tempat berkumpulnya siswa-siswa terbaik—ia masih mampu bertahan di posisi empat besar.

Kisah ini bukan sekadar nostalgia. Bagi Mugiyono dan Hermus, masa lalu adalah bahan bakar untuk membentuk masa depan yang berbeda bagi generasi berikutnya.

Kini, ketika keduanya dipercaya memimpin Manokwari, ada satu tekad yang mereka pegang: anak-anak hari ini tidak boleh mengalami keterbatasan seperti yang mereka rasakan dulu.

“Cukup kita saja yang merasakan seperti itu. Generasi ke depan jangan kita tinggalkan dalam kondisi yang sama,” tegas Mugiyono.

Dari tekad itulah lahir berbagai program yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat—terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Pembangunan Posyandu, misalnya, bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol kehadiran negara hingga ke lapisan paling bawah.

Bagi mereka, sekecil apa pun sentuhan pemerintah harus bisa dirasakan oleh semua, termasuk masyarakat di kampung-kampung yang selama ini kerap terpinggirkan.

“Kalau kita seperti itu, jangan sampai anak-anak tidak sekolah. Kita bangun Posyandu agar pelayanan kesehatan benar-benar sampai ke masyarakat paling bawah,” katanya.

Lebih dari sekadar pembangunan, ini adalah upaya memutus rantai keterbatasan. Sebuah ikhtiar agar anak-anak Manokwari tumbuh dalam kondisi yang lebih baik—lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Di balik semua itu, ada kerinduan sederhana yang menjadi arah perjuangan mereka: melahirkan generasi unggul yang mampu melanjutkan estafet kepemimpinan, bukan hanya di daerah, tetapi juga di tingkat nasional.

“Kalau tidak ada sentuhan pemerintah untuk masyarakat kecil, mereka akan makin susah,” ujar Mugiyono.

Kisah dua anak petani yang kini memimpin Manokwari menjadi pengingat kuat—bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Justru dari situlah lahir daya juang, mimpi besar, dan tekad untuk mengubah nasib.

Dan bagi generasi muda Manokwari, cerita ini adalah bukti nyata: dari kampung pun, masa depan besar bisa dimulai. (Beam_suryaarfak.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *