MANOKWARI, SURYA ARFAK – Perekonomian di Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya menunjukkan kinerja yang tetap positif pada awal 2026. Di tengah tantangan ekonomi global, kedua provinsi mampu mencatat pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan inflasi yang terkendali serta didukung meningkatnya aktivitas di berbagai sektor usaha.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua Barat dan Papua Barat Daya, Budi Rahman, mengatakan kondisi tersebut menjadi indikator bahwa fundamental ekonomi di kedua provinsi masih terjaga dengan baik. Hal itu disampaikannya dalam Journalist Update di Manokwari, Selasa (30/6).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan OJK, ekonomi Papua Barat Daya pada Triwulan I 2026 tumbuh 4,16 persen secara tahunan (year on year/y-on-y). Secara triwulanan (quarter to quarter/q-to-q), ekonomi juga masih mencatat pertumbuhan sebesar 0,31 persen.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan (ADHK) meningkat dari Rp6,36 triliun pada Triwulan I 2025 menjadi Rp6,62 triliun pada Triwulan I 2026. Sementara PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) naik dari Rp9,60 triliun menjadi Rp10,13 triliun.
Budi menjelaskan, seluruh lapangan usaha di Papua Barat Daya mengalami pertumbuhan positif. Sektor konstruksi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 9,46 persen, disusul jasa keuangan dan asuransi sebesar 9,44 persen serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,45 persen. Sementara administrasi pemerintahan tumbuh 5,14 persen dan perdagangan meningkat 4,01 persen.
Meski demikian, struktur ekonomi Papua Barat dan Papua Barat Daya masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi 17,91 persen terhadap perekonomian daerah. Selanjutnya diikuti sektor konstruksi sebesar 14,95 persen, perdagangan 14,17 persen, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 11,93 persen, administrasi pemerintahan 11,92 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 10,02 persen.
Selain pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga juga tetap terjaga. Pada Mei 2026 terjadi deflasi bulanan sebesar 0,01 persen, sedangkan inflasi tahunan tercatat 3,80 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 1,32 persen.
Menurut Budi Rahman, kondisi ekonomi yang tetap tumbuh dan inflasi yang terkendali menjadi fondasi penting bagi perkembangan sektor jasa keuangan di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Dengan stabilitas tersebut, diharapkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terus meningkat sehingga mampu mendorong investasi, penyaluran kredit, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di kedua provinsi.
“Stabilitas ekonomi yang terjaga menjadi modal penting bagi sektor jasa keuangan untuk terus mendukung pembiayaan pembangunan dan aktivitas ekonomi masyarakat di Papua Barat maupun Papua Barat Daya,” ujar Budi. (SA01)








