MANOKWARI, SURYA ARFAK – Kabupaten Manokwari saat ini menyandang tiga fungsi yaitu sebagai pusat peradaban di tanah Papua, sebagai ibukota provinsi Papua Barat, dan sebagai sentra pengembangan ketahanan pangan.
Menurut Bupati Manokwari, Hermus Indou, sebagai pusat peradaban, Manokwari dibangun dalam tiga dimensi yakni pusat religi, pusat pendidikan, dan pusat kebudayaan. Tiga fungsi tersebut harus dibangun dengan baik untuk memastikan bahwa Manokwari harus benar-benar kompetitif.
Karena itu, kata Hermus, pembukaan SMA Negeri 4 adalah bagian dari upaya dan komitmen Pemkab Manokwari untuk memastikan Manokwari sebagai pusat pendidikan tidak hanya punya histori di masa lalu, tapi memberikan spirit kuat untuk bisa membangun dan menciptakan pendidikan yang berkualitas di semua jenjang.
“Karena itu, semua jenjang pendidikan termasuk SMA Negeri 4 adalah wujud nyata upaya membangun Manokwari sebagai pusat pendidikan dan pusat peradaban di tanah Papua,” ujar Hermus, saat melaunching SMA Negeri 4 Manokwari, Kamis (3/7/2025).
Hermus melanjutkan, Pemkab Manokwari juga sedang berjuang membangun daya saing daerah. Sebagai ibukota provinsi Papua Barat, Manokwari harus menjadi role model atau contoh pengembangan pendidikan di Papua Barat.
“Dengan demikian, jika kabupaten lain mau melihat hal baik terkait pengelolaan pendidikan dan SDM, maka bisa datang dan belajar di Manokwari,” katanya.
Daya saing, kata Hermus, juga memberikan makna bahwa masyarakat Manokwari tidak hidup sendiri tapi merupakan bagian dari masyarakat dunia yang berinteraksi dengan daerah lain. Masyarakat Manokwari adalah masyarakat majemuk yang penuh dengan persaingan.
“Diharapkan dalam menghadapi persaingan global, anak-anak Papua tidak termarginalkan tapi bisa bersaing dan menjadi pemenang dalam setiap kompetisi. Untuk itu, pengelolaan pendidikan di Manokwari menjadi hal yang mendapatkan perhatian luar biasa,” tegasnya.
Hermus menambahkan bahwa prestasi dan kualitas pendidikan di kabupaten Manokwari tidak kalah dibanding daerah lain. Manokwari melalui sejumlah SMA yang ada telah mewakili daerah dan negara ke luar negeri. Karena itu, basisnya adalah membangun daya saing daerah.
“Kita boleh membagun apapun, namun inti pembangunan adalah manusia dan kualitas SDM menjadi hal penting. Kualitas SDM adalah modal membangun daerah. SDM dimaknai sebagai investasi jangka panjang. Ibarat menanam pohon, misalnya mangga atau durian, butuh waktu lama untuk berbuah. Namun ketika berbuah, hasilnya dinikmati terus menerus,” tandasnya. (SA01)








