Dari Lagu ke Lahan: Kisah Anak Arfak Menanam Harapan di Tanah Sendiri

MANOKWARI, SURYA ARFAK – Di lereng sejuk Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari, sebuah gerakan kecil tumbuh perlahan—lalu menjelma menjadi harapan besar. Ia tidak lahir dari proyek besar atau modal melimpah, melainkan dari tekad seorang anak muda Arfak yang percaya bahwa tanahnya sendiri adalah masa depan.

Namanya Kris Nover Deni Wonggor.

Semua bermula pada Februari 2024. Saat itu, Kris masih seorang mahasiswa di Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari, tengah menyelesaikan tugas akhir tentang potensi pengembangan markisa Arfak di Kampung Syou.

Penelitiannya bukan sekadar akademik—ia melihat langsung potensi besar yang belum tergarap. Tanah subur, alam yang kaya, dan masyarakat yang sebenarnya memiliki kekuatan, hanya butuh arah dan pendampingan.

Namun, jalan hidup Kris tidak berhenti di situ.

Dari Musik ke Misi Lingkungan

Kris bukan hanya seorang mahasiswa. Ia juga seorang kreator. Pada 2023, ia menjuarai lomba cipta lagu bertema lingkungan yang digelar oleh Papua Global Student Center bersama Bentara Papua.

Lagu ciptaannya, “Dingon Kanti Tut Alam Papua”, menggunakan Bahasa Hatam—bahasa ibu yang sarat makna. Lagu itu bukan sekadar seni, melainkan seruan: jaga alam Papua untuk generasi mendatang.

Karya itu membuka pintu. Dalam sebuah diskusi bersama SDSP, Kris dilihat bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pemimpin muda yang punya visi.

Dalam forum tersebut, Kris bertemu dengan tim internasional—termasuk Reville Saw dan Shane M Charty.

Meski terkendala bahasa, Kris membuktikan bahwa kepemimpinan tidak selalu bergantung pada kata-kata. Ia dipercaya menjalankan tugas penting: mendata petani kopi Arabika di Distrik Mokwam.

Selama tiga bulan, ia turun langsung ke kampung-kampung. Berjalan kaki, berbincang dengan petani, mendengar cerita mereka. Hasilnya? Data lengkap yang menjadi fondasi program pengembangan pertanian.

Dari 5 Kelompok ke Ratusan Petani

Perjalanan itu terus berkembang.
Setelah menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Terapan Pertanian pada Agustus 2024, Kris dipercaya menjadi penyuluh swadaya (CFW) pada Februari 2025.

Program yang ia jalankan dimulai dari kecil dengan lima kelompok tani dan pembibitan mandiri.

Namun dalam waktu singkat, dampaknya meluas menjadi 50 kelompok tani dengan sekitar 55.000 bibit tanaman. Dan dari 65 menjadi 120 petani dampingan, menjangkau 10 kampung di Distrik Mokwam.

Apa yang ia bangun bukan sekadar program, tetapi ekosistem harapan.

Melihat perkembangan pesat itu, Kris bersama tim dan keluarganya mengambil langkah besar: mendirikan Yayasan Syoubriy Agroforesty Maju.
Yayasan ini menjadi wadah resmi untuk pendampingan petani, pengembangan agroforestri, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kini, lebih dari 220 petani aktif telah didampingi.
Di tangan anak muda lokal, konsep Agroforestri tidak lagi sekadar teori. Ia menjadi praktik nyata—menggabungkan pertanian, kehutanan, dan konservasi dalam satu sistem berkelanjutan.

Namun, di balik capaian itu, ada realita yang tidak mudah.

Selama lebih dari satu tahun tim bekerja tanpa gaji tetap, operasional bergantung pada penghasilan pribadi Kris, semua anggota tinggal bersama dalam satu rumah.

Dengan penghasilan sekitar Rp4,7 juta per bulan, Kris harus membagi untuk keluarga, tim, dan kegiatan lapangan.

Ini bukan tentang kekurangan—ini tentang keteguhan.

Harapan yang Menunggu Dukungan

Di tengah perjuangan, yayasan menyimpan mimpi besar: pembangunan mess untuk tim dan mahasiswa magang, kantor yayasan, rumah pembibitan, kafe kopi Arabika Arfak, rumah produksi minyak buah merah, dan kendaraan operasional.
Semua itu bukan sekadar fasilitas, tetapi alat untuk memperluas dampak.

Kini, Kris tengah melanjutkan studi S2 di Jakarta. Ia tidak ingin berhenti belajar—karena ia tahu, ilmu adalah kunci untuk membuka lebih banyak pintu bagi masyarakatnya.

“Saya ingin perjuangan ini diperhatikan. Lapangan kerja sudah mulai kami buka. Tinggal diperkuat agar bisa berkembang dan menyerap lebih banyak anak muda asli Arfak,” ujarnya.

Yayasan Syoubriy Agroforesty Maju bukan hanya lembaga. Ia adalah simbol:
Bahwa anak daerah bisa memimpin perubahan
Bahwa tanah sendiri bisa menjadi sumber masa depan
Bahwa alam dan ekonomi bisa berjalan beriringan
Dari sebuah lagu, lahir sebuah gerakan.
Dari seorang mahasiswa, tumbuh ratusan harapan.
Dan dari tanah Arfak—masa depan sedang ditanam. (beam/suryaarfak.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *