Dari Mokwam ke Mancanegara, Wonggor Bersaudara Membuka Jalan Ekonomi Keluarga dengan Minyak Buah Merah “Pace Arfak”

MANOKWARI, SURYA ARFAK – Di sebuah rumah sederhana di Distrik Mokwam, Kabupaten Manokwari, aroma khas buah merah memenuhi ruangan. Dari tempat inilah Derjhoni Wonggor dan adiknya, Kris Nover Deni Wonggor, perlahan membuktikan bahwa hasil hutan yang selama ini dipandang sebelah mata ternyata mampu menjadi produk bernilai ekonomi bahkan menembus pasar luar negeri.

Mereka memberi nama produknya Minyak Buah Merah “Pace Arfak”. Kini, minyak buah merah produksi putra asli Arfak itu mulai dikenal luas. Pesanan tidak lagi datang hanya dari dalam Papua Barat, tetapi juga dari luar negeri.

Semuanya berawal dari kegelisahan melihat buah merah yang melimpah di wilayah Mokwam, bahkan hingga Membey dan Neney di Kabupaten Pegunungan Arfak, hanya dimanfaatkan sebagai makanan keluarga atau pakan ternak babi.

“Kalaupun diolah, masih dilakukan secara manual dan hanya untuk konsumsi sendiri. Padahal buah merah sangat banyak, tetapi tidak memiliki nilai ekonomi,” tutur Kris.

Melihat kondisi itu, kedua bersaudara tersebut bertekad mengubah cara pandang masyarakat terhadap buah merah.

Mereka memulai usaha dengan peralatan seadanya. Buah merah dimasak, kemudian diperas menggunakan tangan. Minyak yang dihasilkan pun dikemas memakai botol bekas minuman berenergi.

Hasilnya sangat terbatas. Lima buah merah paling banyak hanya menghasilkan sekitar 500 mililiter minyak.

Perlahan keadaan berubah setelah mereka memperoleh bantuan alat dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Papua Barat. Kini proses produksi dilakukan dengan cara dikukus, kemudian diperas menggunakan alat peras anggur sehingga hasilnya jauh lebih maksimal.

“Dengan alat ini enam buah merah sudah bisa menghasilkan satu liter minyak,” kata Kris.

Tidak hanya alat produksi, mereka juga memperoleh bantuan botol kemasan yang lebih higienis lengkap dengan segel sehingga kualitas produk semakin terjamin dan tampil lebih profesional.

Perjalanan usaha mereka semakin berkembang setelah seorang donatur dari Belanda mulai rutin memesan minyak buah merah. Bahkan, dukungan tidak berhenti pada pembelian produk.

Donatur tersebut ikut membantu pengembangan budidaya buah merah di Mokwam. Tahap pertama telah ditanam sekitar 800 pohon, sementara tahap kedua sedang dipersiapkan melalui persemaian sebanyak 800 pohon lagi.

Langkah berikutnya bahkan lebih besar. Mereka tengah menjalin kerja sama dengan Universitas Papua (Unipa) agar minyak buah merah dapat dikembangkan menjadi produk berbentuk pil.

Dalam waktu dekat, tim dari Unipa akan meninjau langsung proses produksi sebelum kerja sama dilakukan. Sejumlah mahasiswa Unipa yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Distrik Mokwam juga ikut mendampingi pengembangan kopi dan buah merah.

Kesempatan memperkenalkan produk kepada masyarakat luas datang melalui Pameran Harmoni Ekonomi Pesparawi Nasional XIV di Plaza Unipa, Manokwari.

Di antara puluhan stan yang ada, Minyak Buah Merah Pace Arfak menjadi salah satu produk lokal yang paling banyak diburu pengunjung. Dengan kemasan menarik dan harga Rp100 ribu per botol ukuran 200 mililiter, produk ini cepat menarik perhatian peserta Pesparawi dari berbagai provinsi.

“Kami membawa lebih dari 40 botol. Sekarang tinggal sekitar 10 botol saja. Masih promo, beli lima botol gratis satu. Kebanyakan yang membeli peserta dari Kalimantan dan Maluku,” ujar Kris.

Melihat tingginya minat masyarakat, Wonggor bersaudara ingin memperluas budidaya buah merah melalui pengembangan demplot bersama petani di Distrik Mokwam.

Namun, mereka mengakui masih menghadapi keterbatasan fasilitas produksi. Selama ini seluruh proses pengolahan dilakukan di rumah sang kakak karena belum memiliki rumah produksi khusus.

Karena itu, mereka berharap pemerintah dapat membantu pembangunan rumah produksi yang tidak hanya digunakan untuk mengolah buah merah, tetapi juga kopi yang kini turut mereka kembangkan.

Harapan mereka sederhana, yakni mengelola hasil-hasil lokal menjadi peluang usaha yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Bahkan, mereka juga mulai menjajaki pengembangan produk baru berupa teh dari sarang semut dan kayu akway.

Menurut Derjhoni Wonggor, keikutsertaan dalam Pameran Harmoni Ekonomi Pesparawi merupakan pengalaman ketiga mereka mengikuti pameran. Sebelumnya mereka pernah tampil pada pameran yang diselenggarakan HIPMI di Hotel Aston Manokwari, kemudian pada pameran HUT PWKI.

Justru setelah mengikuti pameran pertama di Aston, telepon pesanan mulai berdatangan, termasuk dari donatur di Belanda dan Australia.

“Mereka bilang di sana banyak yang mencari karena di luar negeri tidak ada buah merah. Awalnya mereka mengira buah merah hanya ada di Kalimantan, padahal di Papua juga sangat banyak,” kata Derjoni.

Meski keuntungan yang diperoleh dari setiap pameran belum terlalu besar, bagi Wonggor bersaudara hal terpenting adalah produk Minyak Buah Merah Pace Arfak kini semakin dikenal masyarakat.

Dari sebuah rumah sederhana di Mokwam, mereka sedang membuka jalan agar kekayaan alam Pegunungan Arfak tidak lagi sekadar menjadi konsumsi lokal, tetapi tumbuh menjadi komoditas unggulan yang mampu menembus pasar nasional hingga mancanegara. (Beam Bella/suryaarfak.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *