Obet Rumbruren Ajak Masyarakat Manokwari Dukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan Perangi TBC

MANOKWARI, SURYA ARFAK — Anggota Komisi IX DPR RI, Obet Rumbruren, menggandeng Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat untuk menggelar sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan kampanye terintegrasi program penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Manokwari, Senin (6/10/2025).

Dalam kegiatan tersebut, Obet Rumbruren menyampaikan apresiasi kepada mitra kerja dari pemerintah pusat yang terus membangun komunikasi dan berkolaborasi dalam kegiatan lapangan seperti ini.

“Sosialisasi ini tujuannya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. Salah satu yang disampaikan narasumber hari ini adalah tentang penyakit TBC dan cara pengobatannya,” ujar Obet.

Ia berharap masyarakat dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan, rutin berobat, dan disiplin minum obat agar bisa hidup lebih sehat dan panjang umur. Menurutnya, alasan biaya seharusnya tidak lagi menjadi penghalang bagi masyarakat yang ingin sembuh dari TBC.

“Tidak ada biaya bukan lagi alasan. Jalan kaki ke fasilitas kesehatan pun bisa, asalkan ada niat untuk sembuh. Harus berjuang dan mengikuti aturan rumah sakit, saya yakin pasti sembuh,” tambahnya.

Obet juga berbagi pengalaman pribadinya yang pernah menderita TBC, namun berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan secara teratur selama tiga bulan.

“Puji Tuhan, saya bisa sembuh. Karena itu, sebagai anggota Komisi IX yang berfokus pada pelayanan masyarakat, saya ingin terus mengajak semua pihak untuk menyampaikan pesan bahwa sehat itu penting,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, dr. Nurmawati, menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit yang mudah menular dan membutuhkan pengobatan jangka panjang, minimal enam bulan.

“Kalau pengobatan tidak diselesaikan, maka akan terjadi resistensi obat. Kalau sudah resisten, pengobatannya lebih lama, biayanya lebih mahal, dan variasi obatnya juga lebih banyak,” kata dr. Nurmawati.

Ia menambahkan, tingkat penemuan kasus TBC di Manokwari sudah mencapai sekitar 71 persen. Namun, angka penyelesaian pengobatan masih di bawah itu karena masih ada stigma dan penolakan dari pasien.

“Ada yang sudah mulai pengobatan tapi tidak menyelesaikan. Padahal penyakit menular seperti ini tidak hanya berbahaya bagi penderita, tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya,” ujarnya.

Menurutnya, kasus kematian pada penderita HIV di Papua Barat juga sebagian besar disebabkan oleh infeksi TBC, sehingga penyakit ini menjadi salah satu yang paling diwaspadai.

Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Provinsi Papua Barat kini menggalakkan pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk pemeriksaan TBC, bagi seluruh masyarakat. Selain itu, dilakukan juga investigasi kontak dengan dukungan Global Fund, yaitu kunjungan ke rumah pasien TBC untuk memeriksa anggota keluarga dan orang-orang yang pernah berkontak dengan penderita.

“Jika ditemukan gejala, akan dilakukan pemeriksaan dahak. Jika tidak ada, diberikan obat pencegahan. Salah satu gejala utama TBC adalah batuk lebih dari dua minggu,” pungkas dr. Nurmawati. (SA01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *