MANOKWARI, SURYA ARFAK – Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Papua Barat memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan ekonomi lokal.
Hal itu disampaikan Koordinator Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Papua Barat, Erika Vionita Werinussa, dalam sosialisasi program MBG bersama anggota Komisi IX DPR RI, Obet Rumbruren, di Manokwari, Sabtu (18/2/2026).
Erika menjelaskan, jumlah SPPG di Papua Barat saat ini mencapai 43 dapur layanan dengan penerima manfaat lebih dari 97 ribu orang. Banyaknya dapur tersebut berdampak langsung pada terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat.
“Satu dapur SPPG minimal melibatkan sekitar 37 relawan, bahkan bisa lebih. Mereka tidak disyaratkan pendidikan tertentu, yang penting mampu bekerja di dapur. Mereka mendapat upah harian yang dibayarkan setiap dua minggu atau sebulan sesuai kesepakatan dengan kepala SPPG dan mitra,” ujarnya.
Selain menyerap tenaga kerja, program MBG juga menggerakkan ekonomi lokal karena kebutuhan bahan pangan yang tinggi dan berkelanjutan.
“Kami membutuhkan banyak sayur, buah, ikan setiap hari untuk puluhan dapur di Manokwari. Ketersediaan buah bahkan mulai terbatas, sehingga kadang diganti dengan puding yang dipasok dari UMKM lokal anak-anak muda Papua atau diproduksi sendiri di dapur,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan MBG selama bulan Ramadan, Erika mengatakan penyesuaian menu dilakukan sesuai kebutuhan peserta didik.
“Untuk penerima manfaat yang beragama Muslim, kami lebih banyak memberikan makanan kering yang bisa dibawa pulang untuk berbuka puasa. Sedangkan sekolah dengan mayoritas Kristen tetap diberikan makanan basah dalam ompreng,” katanya.
Ia menegaskan, mutu makanan MBG dijaga ketat oleh tenaga ahli gizi sejak bahan baku masuk hingga makanan didistribusikan ke sekolah.
“Ahli gizi bersama kepala SPPG bertanggung jawab penuh menjaga kualitas dan mutu makanan. Menu yang diberikan sudah dihitung berdasarkan angka kecukupan gizi sesuai kelompok usia, mulai dari TK hingga SMA,” tegasnya.

Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI, Obet Rumbruren, menyatakan bahwa antusiasme masyarakat terhadap program MBG sangat tinggi karena memberikan peluang kerja bagi warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.
“Saya melihat dapur SPPG sangat antusias. Ini kesempatan bagi masyarakat yang menganggur, ibu rumah tangga, maupun mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan,” ujarnya.
Obet menegaskan keberlanjutan program MBG sangat bergantung pada komitmen pelaksana di daerah untuk menjaga kualitas layanan.
“Pertanyaannya bukan apakah program ini berjalan, tetapi apakah kita di daerah mampu menjaga dan melaksanakannya dengan baik selama lima tahun. Di Manokwari dan Papua Barat kita harus jaga bahkan tingkatkan. Kekurangan itu wajar, tetapi harus terus diperbaiki agar tidak ada keluhan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan MBG di Papua Barat akan sangat ditentukan oleh kerja sama antara pemerintah, pelaksana SPPG, dan masyarakat penerima manfaat. (SA01)








