BINTUNI, SURYA ARFAK – Panitia Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik IV Tingkat Provinsi Papua Barat menyiapkan dewan juri yang terdiri dari rohaniwan, akademisi, dan praktisi musik gereja untuk mengawal seluruh proses penilaian pada setiap cabang lomba.
Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Provinsi Papua Barat, Prof. Roberth K.R. Hammar, mengatakan pemilihan dewan juri dilakukan dengan mempertimbangkan kompetensi, pengalaman, integritas, serta rekam jejak dalam pembinaan di bidang masing-masing.
“Dewan juri yang hadir bukan hanya bertugas memberi nilai. Mereka adalah bagian dari proses pembinaan iman, seni, karakter, dan budaya liturgi Gereja Katolik. Karena itu, kami berharap seluruh proses penilaian berjalan objektif, netral, transparan, dan berkeadilan,” ujar Prof. Hammar.
Untuk kategori Cerdas Cermat Rohani Anak/Remaja, panitia menunjuk Pater Goklian Lumban Gaol, OFM, Pater Marthinus Selitubun, Pr., M.Hum., Lic.Iur.Can., dan Dra. Berlinda Renwarin, M.Th. Ketiganya dinilai memiliki pengalaman dalam pelayanan pastoral, pendidikan, serta pembinaan iman yang mendukung penilaian terhadap pemahaman Kitab Suci, ajaran Gereja, dan kehidupan menggereja.
Sementara itu, kategori Paduan Suara Anak, Paduan Suara Dewasa Wanita, Paduan Suara Orang Muda Katolik, Paduan Suara Dewasa Campuran, serta Gregorian Anak/Remaja dan Gregorian Dewasa akan dinilai oleh Romo Harry Hermanus Singkoh, MSC, Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., dan Budi Yohanes Susanto.
Ketiga juri tersebut dikenal memiliki pengalaman luas di bidang musik liturgi, pendidikan seni musik, serta pembinaan paduan suara. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjaga kualitas penilaian dari aspek teknik vokal, harmoni, interpretasi, musikalitas, hingga kesesuaian dengan kaidah liturgi Gereja Katolik.
Untuk kategori Mazmur Anak, panitia menugaskan Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., Budi Yohanes Susanto, dan Veronika Silvia Rettob. Penilaian akan difokuskan pada kejernihan vokal, ketepatan nada, artikulasi teks Kitab Suci, penghayatan, serta kemampuan peserta membawakan mazmur secara liturgis.
Adapun kategori Mazmur Orang Muda Katolik (OMK) Gregorian dan Mazmur Dewasa Gregorian akan dinilai oleh Romo Harry Hermanus Singkoh, MSC, Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., dan Budi Yohanes Susanto dengan penekanan pada karakter gregorian, ketepatan frase musikal, serta penghayatan spiritual.
Pada kategori Tutur Kitab Suci Anak, dewan juri terdiri atas Romo Terry Thomas Panomban, Johana Velisita J. Lindawati, dan Johannes Jarot Hadianto yang memiliki pengalaman dalam bidang biblika dan pembinaan pewartaan Kitab Suci.
Prof. Hammar menegaskan bahwa netralitas menjadi prinsip utama dalam seluruh proses perlombaan. Menurutnya, setiap peserta membawa nama baik daerah serta hasil latihan yang panjang sehingga seluruh penampilan harus dinilai secara objektif sesuai ketentuan lomba.
“Pesparani adalah panggung iman. Di dalamnya ada kompetisi, tetapi kompetisi itu harus tetap berdiri di atas kejujuran, sportivitas, persaudaraan, dan tanggung jawab moral. Dewan juri harus menjadi penjaga martabat lomba, agar setiap peserta merasa dihargai dan setiap hasil dapat diterima sebagai bagian dari proses pembinaan,” katanya.
Ia menambahkan, hasil perlombaan bukan menjadi tujuan akhir. Catatan dan evaluasi dari dewan juri diharapkan menjadi bahan pembinaan berkelanjutan bagi paroki, kevikepan, kabupaten, hingga tingkat provinsi.
“Kita ingin Pesparani IV di Teluk Bintuni meninggalkan warisan pembinaan. Anak-anak semakin mencintai Kitab Suci, OMK semakin berani melayani, umat semakin mencintai musik liturgi, dan seluruh kontingen pulang membawa semangat persaudaraan. Itulah kemenangan yang paling bermakna,” ujar Prof. Hammar.
Dengan dukungan dewan juri yang memiliki kompetensi di bidang rohani, akademik, musik, dan biblika, Pesparani IV Papua Barat diharapkan tidak hanya menghasilkan para juara, tetapi juga memperkuat pembinaan iman serta melahirkan generasi Katolik Papua Barat yang siap melayani Gereja dan masyarakat. (SA01)








